Ditatapnya wajah Annisa dan Raja satu persatu, kemudian Nurlela mencium kening anaknya yang masih terlelap. Selesai menunaikan shalat Subuh Nurlela harus berangkat ke pasar seperti hari-hari sebelumnya. Nurlela menghampiri suaminya yang sedang menyedu kopi hangat buatannya.
“Bang, lela berangkat dulu”, ucap lela sembari mencium tangan suaminya.
“Hati-hati ya la”.
Pagi itu begitu dingin, asap kabutpun masih menyelimuti daerah pegunungan tempat Nurlela tinggal, tepatnya Nagari Sungai Puar. Setiap pagi Nurlela harus menelusuri jalanan yang masih gelap itu. Bukan Nurlela saja, masih banyak wanita-wanita di Nagari itu yang senasib dengan Nurlela.
Sepuluh tahun Nurlela membawa Ijazahnya kemana-mana namun tak ada gunanya, rasanya nggak ada artinya Nurlela mati-matian belajar mendapatkan nilai kumlout. Setiap kali ingat akan hal itu, Nurlela jadi putus asa. Menunggu dan selalu menunggu panggilan untuk mengajar di sebuah sekolah, harapan itu kini telah pudar. Begitupun suaminya Jamil, seorang Sarjana Ekonomi yang sekarang hanya bekerja sebagai Kuli Bangunan.
Melihat kedua anak mereka yang semakin hari semakin tumbuh besar, membuat Nurlela mengambil keputusan untuk membantu suaminya mencari nafkah, apa saja yang penting halal. Awalnya Nana tetangga sebelah rumah Nurlela yang bekerja sebagai pengupas kulit bawang di Gudang Bawang Pasar Aur Kuning. Meski pendapatannya sehari tak seberapa tapi cukuplah sekedar tambahan beli lauk untuk sehari-hari. Nurlela jadi tertarik mengikuti jejak Nana dan diutarakanlah pada suaminya.
“Bukannya Abang larang kamu untuk kerja, kasihan anak-anak nggak ada yang ngurus, kasihan ibu sudah tua.”
“Tapi Bang, Lela ingin sekali membantu Abang, sebentar lagi Annisa masuk sekolah, bagaimana dengan biayanya nanti, sedangkan gaji abang hanya cukup untuk biaya kita sehari-hari”.
“Kita harus banyak bersabar la, roda itu berputar, tak selamanya kita berada dibawah, Insya Allah pasti ada perubahan.
Mendengar percakapan Nurlela dan Jamil, Ibu Nurlela keluar dari kamarnya.
“Kalau kamu tetap ingin kerja, silakan saja, biar anak-anak bersama ibu, lagian mereka sudah besar nggak perlu digendong kan”?
“Ya tapi bu, Nurlela pasti seharian bekerja, nanti ibu yang susah”, ucap Jamil.
“Nggak apa-apa”.
Mendengar ucapan Ibunya Nurlela jadi kuat untuk melangkah, meski sejuta persoalan yang nanti akan terjadi namun Nurlela tetap pada keputusannya.
“Assalaamu’alaikum”, suara Nurlela terdengar dari dalam rumah, membuat kedua anaknya berlarian menyambut kedatanganya. Kedua bocah itu begitu merindukan kehangatan pelukan mamanya yang hanya setiap malam tiba dapat mereka rasakan. Nurlela tahu bagaimana mengobati kerinduan anaknya, onde-onde kesukaan buah hatinya itu selalu jadi hadiah untuk mencairkan suasana hati mereka yang lagi gundah.
“Asyiiiiiik...... onde-ode lagi, makasih ma”, ucap mereka sembari lompat-lompatan.
Melihat kedua buah hatinya kembali ceria, Nurlelapun merasa tenang tanpa beban. Sebetulnya sepulang dari pasar, Nurlela ingin sekali merebahkan badan agak lima atau sepuluh menit saja di tempat tidur, tapi untuk sarapan besok harus disiapkannya sebelum tidur karena besok pagi terlalu buru-buru.
“Bang Jamil kemana bu”? tanya Nurlela pada Ibunya yang sedang mengaji di kamar.
“Abangmu belum pulang dari tadi”.
“Apa? Seharusnya jam lima sore kan sudah di rumah”.
Pikiran Nurlela makin tak menentu, sudah jam delapan suaminya belum pulang juga. Nurlela Bingung harus mencari suaminya kemana, sementara dia tidak tahu satupun rumah teman suaminya. Dia hanya bisa berdo’a semoga suaminya baik-baik saja.
“Assalaamu’alaikum”.
“Wa’alaikumsalam”, ucap Nurlela yang bergegas membukakan pintu.
“Alhamdulillah”, ucapnya sembari memeluk tubuh besar yang berada didepannya.
Suaminya spontan kaget melihat sikap istrinya itu.
“Ada apa la”?
“Abang membuat lela khawatir, kenapa abang telat pulangnya”?
“Maaf la, tadi sehabis pulang kerja abang ke rumah sakit tengok teman abang yang tadi mengalami kecelakaan waktu kerja.”
“Astaghfirullahal’azhiim, lela pikir abang yang kena musibah, lalu bagaimana dengan teman abang itu”?
“Cukup parah la, semoga saja cepat sembuh”.
Sehabis menyugukan minuman buat suaminya Nurlela kembali melanjutkan pekerjaannya di dapur. Sementara kedua anaknya sudah terlelap bersama Nenaknya yang selama ini menemani mereka.
“Udah jam sepuluh la, istirahat dulu”, tegur suaminya.
“Hampir siap bang, kalau abang dah ngantuk duluan deh, lela nanti nyusul”.
Subuh kembali datang, Nurlela dan suaminya segera bangun menunaikan shalat Subuh berjamaah. Sehabis shalat Nurlela merebahkan kepalanya kepangkuan suaminya.
“Kamu pasti capek kan”? ucap suaminya sembari mengusap kepala istrinya.
“Dalam hati kecil ini lela ingin selalu bisa bersama-sama dengan Abang dan anak-anak kita”.
“Udah dari awal abang bilang, kamu nggak usah kerja, biar abang saja sedangkan kamu di rumah ngurus anak-anak dan ibu, kasihan mereka”.
Nurlela terdiam, kembali bayangan masa lalu hadir. Kenapa dia begitu cepat menerima lamaran Bang Jamil, coba dia cari kerja dulu, padahal waktu itu banyak yang menawarkan untuk mengajar. Setelah menikah Nurlela rupanya keburu hamil, sehingga kesempatan itu hilang. Kembali Nurlela menyesali, apalagi melihat kedua anaknya, mereka tidak bisa memiliki mainan seperti anak-anak yang seusianya.
“Ma, Dina beli boneka bagus, Nisa mau boneka pula mama”, ngadu nisa kepadanya.
“Sayang, uang mama belum ada, nanti kalau mama dah gajian mama belikan ya”?
Tak lama kemudian Rajapun datang.
“Mama, Raja juga dibelikan mobil yang besar ya, seperti punya Angga”.
“Ya Allah, apakah selamanya kehidupan kami seperti ini”? keluh Nurlela dalam hati
Gaji satu hari yang diterima Nurlela dari mengupas kulit bawangpun tak cukup untuk membelikan mainan untuk kedua buah hatinya. Rasanya Nurlela berdosa pada kedua anaknya karena Nurlela belum bisa memenuhi janji-janji yang entah kapan bisa terpenuhi.
“Lela…….. kamu tertidur sayang”?
Suara suaminya membangunkan Nurlela dari lamunannya.
“Astaghfirullah, udah jam 6.00 bang, lela harus siap-siap, takut telat nyampe di gudang”.
Dengan tatapan yang begitu rusuh, Jamil melepas kepergian istrinya. Dipeluknya tubuh Nurlela yang semakin hari terlihat kurus dan wajahnyapun tampak pucat. Jamil begitu khawatir melihat keadaan Nurlela, namun dia tak dapat mencegat kemauannya untuk bekerja. Jamil belum bisa memberi kebahagiaan buat istri dan anak-anaknya. Jamil telah berusaha mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan namun tak satupun perusahaan yang bisa menerimanya. Alasan mereka karyawan penuh dan tidak menerima karyawan baru. Menjadi kuli bangunan sangat menyiksa bagi Jamil, tenaganya terlalu terkuras untuk pekerjaan itu, sayangnya Jamil tak punya keahlian yang lain.
Sore itu Nurlela pulang cepat dari hari biasanya, badannya terlihat begitu lelah.
“Mama kenapa”? tanya Annisa melihat mamanya
“Nggak pa-pa sayang, mama ke kamar dulu ya”?
Nurlela membaringkan badannya di tempat tidur. Tak lama kemudian ibunya datang.
“Lela, kamu sakit nak”?
“Tidak bu, lela capek aja”.
“Wajah kamu tampak pucat nak, kalau lagi kurang enak badan jangan dipaksakan untuk kerja”.
Nurlela menganggukan kepalanya,”Lela istirahat dulu bu”.
Jam 5.00 Wib sore Jamilpun pulang. Annisa yang membukakan pintu untuk papanya langsung memeluk tubuh papanya itu.
“Ada apa sayang?”
“Mama…. Pa”?
Tanpa pikir panjang, Jamil buru-buru ke kamar menghampiri istrinya yang sedari tadi masih berada di tempat tidur.
“Sayang, kamu kenapa”? ucap Jamil sembari mengusap kepala istrinya.
“Lela nggak apa-apa bang, capek aja”.
Dipegangnya tangan istrinya yang tampak kotor sehabis mengupas bawang yang belum sempat dicucinya.
“Besok kamu nggak usah kerja lagi, sedih abang lihat kamu, badanmu semakin kurus, lihat tanganmu yang selalu kotor dan menjadi kasar, wajahmu pun tak lagi berseri.” Nurlela tersenyum meski dipaksakan mendengar ucapan suaminya barusan.
“Lalu apa bang Jamil mau nikah lagi kalau Lela nggak cantik lagi”?
“Nikah? Apa hubungannya la? Nggak ada niat Abang untuk itu, cinta Abang sama kamu dan anak-anak tak tergantikan oleh apapun”.
Nurlela percaya, dia masih ingat betapa buru-burunya Jamil ingin melamarnya. Ketika masih kuliah begitu banyak Mahasiswa UNP yang antrian, untungnya hati Nurlela cuma terpikat pada Jamil.
Nurlela mulai nggak betah berlama-lama di rumah, diapun kembali mengupas bawang di Gudang. Meski penghasilan tak seberapa dibandingkan lelahnya namun hatinya bahagia bisa tertawa bersama-sama dengan ibu-ibu yang datang dari berbagai tempat. Mereka saling berbagi, bercerita tentang anak-anak dan keseharian mereka di pasar.
“Lela...........lela…….”, terdengar seseorang memanggil namanya.
Buru-buru lela keluar mencari datangnya suara itu, rupanya Maknya si Nana. Sejuta tanya muncul dipikiran Nurlela, tentang ibu, anak-anak atau suaminya, apakah sesuatu terjadi dengan mereka?
“Ada apa mak”?
“Aku disuruh ibu kau menjemput kau, tadi pagi pegawai dari kantor Nagari mencari kau, kau disuruh ke kantor sekarang juga”.
Tanpa pikir panjang, Nurlela pulang bersama Maknya si Nana. Nurlela langsung menuju kantor Nagari.
“Assalaamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”, jawab seseorang dari dalam
Nurlelapun masuk menemui seorang lelaki separoh baya yang duduk di sudut ruangan tersebut.
“Ibu Nurlela?”
“Benar Pak”
“Ada surat untuk Ibu Nurlela dari Al Fitrah”.
Mendengar Al Fitrah, Nurlela hampir saja lupa kapan ia terakhir kali mengirim lamaran kesana, yang jelas sudah lebih satu tahun. Al Fitrah merupakan lembaga pendidikan terbesar dan ternama dan tidak semua orang bisa diterima disana.
Sesampai di rumah, Nurlela membuka surat tersebut dan membacanya. Nurlela diminta untuk datang besok jam 7.00 WIB. Nurlela bersyukur sekali dapat panggilan, tapi dia belum yakin dapat diterima mengajar, tentunya ada beberapa test yang akan dia jalani. Meski belum pasti, khabar itu segera ia beritahu pada suaminya.
“Alhamdulillah, semoga saja ini awal yang baik”, ucap suaminya.
“Tapi lela belum pasti diterima lo Bang”.
“Pokoknya kamu harus yakin, Insya Allah do’a kita selama ini akan dikabulkan oleh Allah SWT”.
“Aamiin”.
Sebelum jam 7.00 Wib Nurlela sudah sampai di Al Fitrah. Beberapa orang guru sudah berdatangan dan Nurlelapun dipersilakan menunggu di ruang tamu. Tepat jam 7.00 Wib Nurlela dipanggil oleh seseorang untuk masuk ke sebuah ruangan dan Nurlela pun mengikuti orang tersebut. Di ruangan yang berukuran 4 x 3 cm tersebut Nurlela berhadapan dengan seorang laki-laki yang berusia sekitar 40-an. Nurlela dihujani berbagai pertanyaan yang membuatnya cukup tegang, namun ia berusaha mengendalikan itu semua. Meski sudah sepuluh tahun tak mengulangi pelajaran kuliah, namun semua pertanyaan tidak asing baginya. Ketika keluar dari ruangan tersebut dilihatnya jam sudah menunjukan pukul 10.00 Wib.
Pada hari yang sama, malamnya Jamil memberitahu kabar gembira pada Nurlela yang tak pernah diduganya. Ketika melihat temannya yang dirawat di rumah sakit, Jamil bertemu dengan kawan kuliahnya dulu yang bernama Irwan. Orang tua Irwan kebetulan dirawat di rumah sakit. Rupanya Irwan telah menjadi Pengusaha Sukses di Jakarta dan dia mengajak Jamil bekerja di Perusahaannya.
“Apa kamu setuju la”?
“Alhamdulillah kalau memang itu benar, lela nggak larang abang kerja di Jakarta, tapi apakah benar Irwan punya perusahaan? Dan kalau abang ke Jakarta, bagaimana dengan Lela dan anak-anak”?
“Bukan di Jakarta la, Irwan akan membuka cabang di Bukittinggi”.
“Alhamdulillah, tentu saja lela setuju bang”.
Dua hari setelah itu datang lagi surat dari Al Fitrah, kali ini langsung diantar oleh Pegawai kantor Nagari ke rumah Nurlela. Kebetulan hari itu Nurlela tidak ke pasar, Raja lagi demam. Tak sabar Nurlela membuka dan membaca surat tersebut, sebelumnya ia menduga surat panggilan untuk mengikuti test selanjutnya. Selesai membaca surat tersebut Nurlela menangis dan bersujud di lantai.
“Alhamdulillah……….Alhamdulillah……….terima kasih ya Allah”
Mendengar lela menangis, Ibunya buru-buru ke luar dari kamar karena kaget dan menghampiri Nurlela.
“Kenapa la, apa lagi yang terjadi”?
“Alhamdulillah bu, lela akhirnya diterima mengajar di Al Fitrah”
Ibunyapun akhirnya ikut menangis karena bahagia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar